February 26, 2015

Dia Perwiraku #2

cerita sebelumnya: Dia Perwiraku #1

Hari berlalu dengan cepat, matahari beranjak pergi, sang purnama menggantung seorang diri tanpa pasukan bintang yang senantiasa menemani. Ya, malam ini langit sempurna tenggelam dalam kegelapannya. 

Aku sedang berjalan di tepian Kota, menyusuri jalan, sendirian. Bukan tanpa maksud aku menyusuri jalan ini, setelah seharian tadi di-sibukan dengan jadwal kuliah yang padat, perutku meminta haknya; mencari makan.
Langkahku terhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan yang menjual menu nasi kucing, murah meriah namun cukup untuk mengganjal perut sebelum aku sampai di rumah. 
Aku duduk di sebuah meja dan memesan makanan. Seniman jalanan datang silih berganti, mendendangkan lagu dari satu genre ke genre lainnya, aku sama sekali tak merasa risih, malah menurutku suasana seperti ini menambah suatu kelengkapan di malam yang gelap, suasana yang akrab, terasa hangat.

"Boleh saya duduk disini?" tanya seseorang dengan tiba-tiba yang datang menghampiri mejaku
"ya silahkan", aku menjawab sekenanya, tanpa menoleh, terlalu asik dengan handphoneku. 
"terimakasih", timbal laki-laki itu, lalu memesan makanannya. Dari ekor mataku aku dapat melihat ia memainkan handphone, membuka sebuah buku, membacanya, lalu diam beberapa saat. Hingga suaranya terdengar lagi, dan bertanya
"maaf, kamu yang waktu itu di toko buku kan? beberapa hari yang lalu, masih ingat? wah kita ketemu lagi" 
di toko buku? apakah laki-laki itu? dengan cepat aku menoleh, aku menemukan wajahnya yang sedang tersenyum ke arahku, tiba-tiba saja jantungku kembali berdetak kencang. Mata itu, akhirnya aku bisa melihatnya lagi
"saya Aditya Perwira, panggil aja Wira" lelaki itu menjulurkan tangannya
"gue Alycia, panggil aja Al" aku menerima jabat tangannya, senyum terukir di wajahku, mungkin lebih terlihat seperti malu-malu
"ohh Al, lucu ya kaya cowok" ia berkomentar, sambil tertawa. Mata indah itu menyipit dibalik kacamata, lucu sekali, seperti karakter-karakter yang ada di komik
"ngomong-ngomong gimana komik yang waktu itu dibeli, udah dibaca semua? ceritanya seru loh" sambungnya
"baru beberapa sih yang sempat dibaca, iya emang seru banget! eh emang lo suka komik juga? tanyaku sedikit tidak yakin
"suka banget! ini sih aku lagi ngapain?" ia mengangkat buku yang sedang dibacanya, menunjukkan cover depan buku itu. Ya, ternyata buku yang sedang ia baca sedari tadi adalah sebuah komik edisi terbaru. 
"wah kebetulan banget kok bisa sama ya hahahaha" kami berdua tertawa bersama.
"makanannya biar gue yang bayar ya? sebagai tanda terimakasih buat komik-komik yang lo bayarin waktu itu" tawarku
"wah asik dong ditraktir, boleh boleh" ia kembali tertawa

Entahalah, rasanya memang aneh, kami baru saja berkenalan tetapi rasanya seperti sudah lama sekali kenal.
Selesai makan, kita banyak berbicara berdua, berbicara ini-itu, banyak sekali.
Saat malam sudah semakin larut, aku pamit untuk pulang, Wira sempat menawarkan diri untuk mengantarkanku, tapi aku menolaknya, tidak ingin merepotkannya(lagi).

**

tring!!!

---- Wira is calling ---

"Halo Al, kamu dimana?" terdengar suara Wira diseberang sana, bertanya
"aku masih di rumah"
"mau aku jemput?"
"Nggak usah, aku mau ke kampus dulu sama Michelle, kamu duluan aja ke toko buku, nanti aku nyusul"
"Beneran nggak usah nih?" tanya Wira sedikit memelas
"Iya Wira, lagian sok-sok-an mau jemput, kaya yang tau aja rumah aku dimana" aku tertawa mendengar suaranya
"Kalau itu gampang urusannya.... kalau udah niat, mau dicari ke ujung dunia pun pasti ketemu kok" Wira tetap saja merajuk
"Ah sepik" lagi-lagi aku tertawa mendengar ucapannya, 
"ya sudah aku mau berangkat dulu ya, Michelle udah dateng nih, see you"
"See you, hati-hati Al....." 
panggilan terputus

Hari demi hari, aku memang semakin dekat dengan Wira, Michelle dan Wira pun kini sudah saling kenal. Wajar saja, Wira sangat asik untuk diajak berbiacara, ia bisa dengan sangat mudah menampatkan dirinya pada sesuatu hal yang baru.

"Wira Al?" tanya Michelle yang baru saja datang
"ho-oh" aku mengangguk
"Ehem Wira siapa tuh?" Ibu yang sedang menonton tv ternyata mendengar pembicaraanku
"Teman bu" jawabku cepat
"Ah teman apa teman? Ajak ke rumah dong, ibu juga kan mau kenal, iya nda chel?" Ibu malah menggoda
"Betul bu!" Michelle berseru dengan ekspresi wajahnya yang meledekku
"Apa sih Le......" ucapku dengan nada sebal, "iya iya.... nanti aku kenalin, Al berangkat sekarang ya bu" aku menyalami  tangan Ibu
"Kita berangkat dulu bu" pamit Michelle, yang juga ikut menyalami tangan Ibu
"Kalian berdua hati-hati ya" ucap Ibu
Ketika aku akan menutup pintu, tiba-tiba saja Ibu memanggilku
"Alycia!" seru Ibu
"Iya bu?" jawabku dari kejauham
"Jangan lupa ya ajak Wira nya kesini" Ibu setengah berteriak 
"Ibuuuu!!!" aku yang sudah ada di teras rumah dengan spontan berteriak
Ibu malah tertawa mendengar teriakanku
**

Matahari baru saja terbit dari ufuk timur, menggantikan bulan yang sudah terlebih dahulu pergi.
Selamat pagi.

Aku melihat jam tanganku, pukul 06.15. Aku dan Michelle sedang berdiri di sebuah halte dekat rumahku, menunggu Wira.

Pagi ini rencananya kami akan sedikit berolahraga, Wira mengajakku lari pagi, sebagai pemanasan untuk acara minggu depan nanti. Hanya untuk acara saja pemanasannya harus lari pagi? Acara apa? coba tebak! tidak, tidak, bukan itu. Ayo tebak lagi, ya, ya, betul! Minggu depan nanti, aku, Michelle, Wira dan teman-temannya akan mendaki gunung, salah satu hobi aku dan Wira yang lagi-lagi sama. Sebenarnya Michelle tidak begitu suka acara seperti ini, tapi aku mengajaknya untuk menemaniku.  

"kamu ini ngajak aku naik gunung, ngajak aku tuh ke tempat-tempat yang keren kek gitu" ucap Michelle sebal
"kalo lo udah di puncak, pemandangannya keren banget, nggak bakal nyesel deh, please dong temenin gue, biar gue dapet izin dari Ibu Le, please.... yayaya...." bujuk ku pada Michelle
"iya tapi ada imbalannya" Michelle tersenyum sedikit tengil
"apa?" jawabku cepat
"nanti temenin aku nyalon ya, aku mau perawatan"
Aku ini tipe perempuan yang tidak begitu suka ke salon, dan Michelle tau itu
"nggak ada yang lain Le?"
"Yaudah kalo nggak mau"
"Iya deh iya Le gue nyerah"
Michelle tertawa penuh kemenangan

"Itu mobil Wira kan?" tunjuk Michelle
"ohiya itu Wira"
Benar saja, dalam hitungan detik, mobil yang baru saja ditunjuk oleh Michelle menghampiri kami berdua. Kaca pintu depan mobil terbuka, terlihat senyum Wira mengembang bersama matanya yang indah, menambahkan kesejukan pagi, juga menyejukkan hatiku.
"Ayo naik" ajak Wira
Tanpa bicara sepatah kata pun, aku dan Michelle menaiki mobil Wira. Mobil ini akan membawa kami ke stadion Gelora Bung Karno, tempat dimana kami akan sedikit merenggangkan otot-otot kami.

**

Hari yang ditunggu telah tiba.
Aku sudah siap dengan segala perlangkapan yang aku butuhkan, mulai dari tenda, sleeping bag, makanan, minuman, handuk, obat-obatan, dan tak lupa jaket tebal untuk menjaga suhu dalam tubuhku agar tetap panas, karena nanti disana pasti akan sangat dingin sekali. Aku siap untuk menuju puncak Gunung Papandayan.

"udah siap buat naklukin gunung Papandayan?" tanya Wira yang melihatku sangat bersemangat
"pasti dong!" seruku

Hari ini Michelle tidak jadi ikut, tiba-tiba saja Michelle terserang demam dan suhu tubuhnya meninggi. Meski tanpa Michelle, aku tetap pergi. Tentang izin dari Ibu, akhirnya Ibu mengizinkanku karena aku sudah terlanjur mempersiapkan semuanya.

Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai puncak sekitar 3-5 jam perjalanan dari parkiran(camp davis) tempat pendakian dimulai, meski kadang terasa lelah, aku sangat menikmatinya. Pemandangan-pemandangan yang ditawarkan oleh alam sekitar tak bisa membuatku berhenti berdecak kagum atas ciptaan-Nya.

Sebelum mendekati puncak, aku bersama rombongan tiba di sebuah tempat yang bernama pondok salada, di tempat itu banyak pendaki yang mendirikan tenda untuk beristirahat. Aku dan rombonganku juga ikut mendirikan tenda, rencananya malam ini kami akan bermalam disini.

Pukul 16.00

Setelah selesai mendirikan tenda dan beristirahat sejenak, rombongan kami kembali beranjak menuju puncak, kami akan berburu senja di puncak Papandayan.
Selama perjalanan, Wira dengan senantiasa menuntunku melewati semua medan dengan penuh kesabaran dan hati-hati.
Tidak begitu lama untuk sampai di puncak, karena tenda-tenda yang kami dirikan jaraknya hanya 1 jam perjalanan dari puncak gunung.
Beberapa menit lagi, matahari akan segera tenggelam menuju cakrawala, meninggalkan guratan garis di langit jingga.

"Al?" panggil Wira tiba-tiba
"Hmm?" aku menoleh
"Aku nggak pernah mau menjadi senja" ucap Wira yang terus memandang ke kejauhan
"Kenapa? bukannya senja itu indah?"
"Memang, tapi indahnya cuma sekejap. Bahkan setelah menghilang, ia malah membawa kita pada kegelapan."
"Tapi aku suka senja"
"Tapi aku nggak pernah mau menenggelamkanmu"
"Kamu ngomongin apa sih, Wira?" aku memandang wajahnya dengan heran, yang dipandang masih acuh
Hening beberapa saat, Wira tak bersuara. Kini hanya terdengar suara angin yang berhembus kencang. Orang-orang yang berada di sini kebanyakan berdiri tanpa suara; menikmati momen yang sangat indah ini.
"Apa kamu benar-benar suka senja, Al?" Wira kembali bertanya, memecah keheningan
"Ya, memangnya kenapa?"
"Baiklah, aku akan menjadi senjamu"
"Apa maksudmu?" aku bertanya dengan heran
"Mau jadi pacarku?"

Hening, aku terdiam, kaget dengan pertanyaan yang diajukan Wira
5...... 4..... 3..... 2..... 1.....
Kini matahari sempurna menghilang dibalik garis horizontal. Indah. Selalu indah.


to be continued~


No comments:

Post a Comment