February 07, 2015

Dia Perwiraku #1

Hallo, 
saat kamu membaca cerita ini mungkin di tempatmu hari masih pagi, siang, sore ataupun malam. Yang pasti hariku disini masih pagi, saat matahari baru saja terbit dari ufuk timur, menggantikan bulan yang sudah terlebih dahulu pergi, malu. Selamat pagi.

Pagi, ketika hari baru dimulai, itu berarti hari yang lalu telah berhasil terlewati. Pagi, ketika harapan-harapan baru muncul, menggantikan harapan hari lalu yang belum sempat terwujud. Pagi, ketika kita harus kembali berpapasan dengan dunia, meninggalkan cerita di hari lalu.
Sebelum masuk ke dalam ceritaku lebih jauh, ada baiknya kita berkenalan dulu. Namaku Alycia Yuwono, panggil saja Al.

Pagi ini dingin. Aku tahu. Karena itu adalah penyebab mengapa aku belum beranjak pergi dari tempat tidurku.
Di samping tempat tidurku, dimana sebuah meja kecil berpijak kokoh, sudah ada secangkir cokelat panas dan roti, menu yang sangat pas untuk sarapan. Ibuku yang membuatkannya, baik sekali.

Semenjak aku menginjak bangku kuliah, Ibuku memang rutin membuatkanku sarapan dan meletakkannya di meja kecil itu, "kalo Ibu nggak taro disitu nanti kamu suka lupa sarapan" begitu katanya.

/knock knock/
"Al...." Ibu mengetuk pintu kamarku.
"Iya bu?"
"cepat bangun, mandi, ada temanmu menunggu dibawah"
"siapa bu?" tanyaku sambil beranjak bangun
"michelle, cepat ya kasian temanmu kalau dibiarkan menunggu lama, Ibu akan ke bawah" Suara Ibu tidak terdengar lagi, ia sudah menuruni anak tangga.

Michelle, atau aku biasa memanggilnya Lele, dia adalah sahabatku dari kecil. Kebetulan, aku dan Lele mempunyai hobi yang sama, membaca buku. Bedanya, aku lebih menyukai membaca buku-buke seperti novel, komik, dan cerita fiksi lainnya. Sedangkan lele, ia lebih suka buku-buku yang berisi tentang pengetahuan. Dan aku lupa kalau hari ini aku berjanji untuk menemaninya ke toko buku.

Aku bergegas mandi dan menemuinya.
**


"Hi Le maaf lama hehehe" aku menuruni anak tangga, dengan tangan kanan memegang sneakers dan tangan satunya lagi memegang sebuah tas kecil
"hmmm iya gapapa, kamu pasti baru bangun ya, Al?" Michelle bertanya tanpa memandangku, ia masih tetap membaca buku panduan untuk tugasnya
"Tau aja Le hehe" jawabku sembari menalikan sneakers
"Udah siap?" tanya Lele lagi
"Udah, eh bentar hp gue" aku kembali menaiki anak tangga
"Hadeh dasar Alycia, kelakuan, maaf ya Michelle" ucap Ibu yang mendengarkan percakapanku dengan Michelle
"hahaha gapapa bu, udah biasa" jawab Michelle dengan santainya.

Maklum saja aku dan Michelle memang sudah bersahabat sejak kecil, Jadi Michelle sudah terbiasa dengan sikapku yang tidak cekatan, serta sifatku yang masih kekanak-kanakan [ini kata Michelle]. Meski usia ku dan Michelle sama, 19 tahun, tapi Michelle memang terlihat lebih dewasa
Penampilan Michelle hari ini dengan atasan bermotif bunga, celana jeans dan sepasang flat shoes berwarna pink menambah kesan anggun dalam dirinya, ditambah dengan rambut ikalnya yang panjang, tertata dengan rapi. Bandingkan saja denganku, hari ini aku hanya menggunakan kaos berwarna hitam, celana jeans dan sepasang sneakers, rambut panjangku yang lurus pun hanya aku ikat sekenanya.

"Yok le kita berangkat" aku yang baru saja turun langsung mengajak Michelle.
"Ayo, pamit dulu sama Ibu"
"Ibuuuuuu Al sama Lele pergi dulu ya, aku sayang Ibu!" tanpa menghampiri Ibu, aku berteriak sambil berjalan ke luar rumah.
"Iya iya hati-hati ya, nak Michelle tolong jaga Alycia" balas ibu yang juga berteriak
"Siap bu" balas Michelle

**

Michelle yang sejak awal memang berniat untuk mencari buku untuk tugasnya berjalan ke arah rak buku pengetahuan, sedangkan aku tentu saja pergi ke tempat komik-komik berjejer. Yap, kami memutuskan untuk berpisah demi menghemat waktu.

Aku membeli banyak komik kali ini, banyak edisi baru yang belum sempat aku beli. Tidak peduli jika nantinya aku dimarahi Ibu, yang jelas aku sangat senang. 
Toko buku di hari libur seperti ini sangat ramai, membuatku kerepotan saat akan membawa beberapa komik dan akan membayarnya ke kasir. 

Brak! 
komik-komik yang ku bawa tiba-tiba saja berjatuhan. Seseorang menabrakku dari arah samping. Seorang lelaki berpenampilan maskulin memakai kacamata.
"Heh kalo jalan liat-liat dong, ngga liat apa lagi ribet begini." Teriakku kesal
"mmm... maaf mba, biar saya bantu." Lelaki itu berjongkok, mengambil komik-komik yang berserakan di lantai
"mba mba apaan, gue masih muda," 
"maaf sekali lagi, kamu mau bayar kan? ayok saya antar" tawarnya
"hmm iya, yaudah makasih"
Lelaki itu, rasa-rasanya masih seumuran denganku tapi terlihat berwibawa, ia membawa komik-komik yang akan ku beli ke kasir, tapi tanpa diduga, ia malah membayarkan semuanya untukku.
"eh eh kok dibayarin segala? gak usah, gue juga punya duit kok...."
"Never mind, anggap aja ini sebagai permintaan maaf saya ke kamu, okay? by the way saya nggak bisa lama-lama dan harus langsung pergi, ada urusan penting, ini bukunya" lelaki itu menyerahkan sekantung belanjaan komik kepadaku sambil tersenyum dan bergegas pergi
"nggg..... iya iya makasih, mas, eh bang, eh siapa deh namanya gue belum tau, makasih ya!" aku berteriak, entah dia mendengarku atau tidak, tetapi lelaki itu menengok ke belakang, mengacungkan jempolnya yang megisyaratkan okay, no problem, santai aja, lagi-lagi sambil tersenyum.

**

Setelah selesai membeli buku-buku yang ia cari, Michelle mengajakku ke kafe, sekedar untuk nongkrong, kami pergi ke salah satu kafe favoritku. Suasana kafe itu tidak terlalu ramai, dekorasinya unik, dipenuhi dengan barang-barang khas jaman dulu, melody-melody yang melegakan jiwa pun selalu terdengar mengalun indah dari sudut ruangannya. Itu sebabnya mengapa kafe itu menjadi tempat favoritku, tentunya tempat favoritku menghabiskan waktu untuk membaca komik. 

"mau pesan apa Al?" pertanyaan Michelle mengagetkanku
"gue kaya biasa aja deh" 
" hmm okay, bye the way aku perhatiin kayanya kamu dari tadi melamun, ada apa?"
"hah gue ngelamun? emang iya? oh itu... tadi ada cowok yang ngebayarin semua komik-komik yang gue beli Le"
"ngebayarin? kok bisa?"
"iya, jadi ceritanya tadi cowok itu nabrak gue, terus ngejatohin semua komik yang gue bawa, ya gue marah-marah dong, terus akhirnya dia ngebantuin dan ngebawain itu semua, eh kirain mau bantu bawain doang, ternyata malah ngebayarin juga, gitu" jelasku tentang kejadian tadi
"kamu marahin cowok itu? tapi dia malah ngebayarin semua komik kamu? baik banget dia, kalo aku sih pasti udah langsung kabur apalagi kalo liat muka kamu lagi marah-marah, kaya nenek lampir, serem"
"eh sembarangan" aku melemparkan bungkusan permen yang baru saja aku buka.
Orang yang dilempari malah tertawa terbahak-bahak.

**

Mata lelaki itu indah sekali, meski terhalang oleh kacamata, tapi ketulusannya saat meminta maaf nampak jelas dari kedua matanya; matanya benar-benar berbicara. Baru kali ini aku bertemu dengan lelaki seperti dia. Ya dia, siapa namanya? entahlah aku tidak sempat menanyakannya. Pertemuan sesingkat itu bisa sangat jelas terekam oleh mata dan dengan sempurna diabadikan dalam otakku. Lelaki itu kini sempurna ada dalam pikiranku. Jatuh hati? ah mana mungkin. 
Sudahlah, mungkin laki-laki itu adalah seorang malaikat yang kebetulan lewat; imajinasiku mulai mengembara.

to be continued__________

No comments:

Post a Comment