March 06, 2015

Dia Perwiraku #3

Cerita-cerita sebelumnya:


Sehari sebelum keberangkatanku ke gn.papandayan....

"Ibuuu, dokumen-dokumen milik Al ada dimana?"
"Ibu simpan di laci Al, coba kamu cari map yang berwarna biru"
Aku berjalan menuruni anak tangga, menuju kamar Ibu.
Aku mencari dokumen dari satu laci ke laci lainnya, aku tidak tahu laci yang mana, karena di kamar Ibu ini begitu banyak laci. 
Aku mencari ke laci yang pertama, tidak ada
Ke laci yang kedua, tidak ada
Ke laci yang ketiga, tetap tidak ada
Ke laci yang keempat, tunggu..... ini ada map berwarna biru, sepertinya ini dokumen yang aku cari-cari
Aku membuka map untuk memastikan, tapi betapa terkejutnya aku ketika melihat isi dari map tersebut, di dalamnya terdapat sebuah foto bayi laki-laki, dan selembar kertas yang telah usang

Di belakang foto tersebut tertulis:

                            Aditya Perwira Yuwono, Desember 1992

Aditya Perwira? Mungkinkan Wira?
Perhatianku beralih pada selembar kertas usang

Apa kabarmu, Wira? 
Apakah kamu bahagia tinggal bersama Ayah? 
Apakah Ayah sering memarahimu?
Apakah kamu makan dengan baik?
Apakah tidurmu nyenyak?
Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan kepadamu, juga ada banyak sekali harapan yang Ibu taruh pada masa depanmu, nak
Hari ini, tanggal 23 Desember, tepat ulang tahunmu yang ke-6, 
kamu sudah semakin besar, nak.
Rasanya ingin sekali ibu merayakannya bersamamu, dan mendekapmu dalam pelukan.
Tapi apa daya, Ibu tidak cukup berani untuk menemuimu, setelah terakhir kalinya Ibu bersusah payah menemuimu tapi hanya berujung dengan penolakan dan pengusiran dari Ayahmu.
Sejak saat itu, Ibu hanya bisa melihatmu dari kejauhan, sembunyi-sembunyi, seperti seorang pemburu yang sedang mengintai sasaran, sedih rasanya...
Hingga suatu hari, Ibu menunggu seharian di sebuah warung yang dekat dengan rumahmu, Ibu kira kamu sedang pergi bersama Ayahmu, nyatanya tidak, perkiraan Ibu salah. Ayahmu ternyata memilih untuk pindah dari rumah itu
Sejak saat itu, Ibu tidak bisa lagi mengawasimu meski dari kejauhan, kamu benar-benar telah dibawa pergi...
Ibu tidak tahu harus berbuat apalagi, Ibu bingung... 
Tapi dimana pun kamu saat ini, Ibu berharap kelak kamu akan tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik, lelaki yang tangguh, lelaki yang bijaksana, lelaki yang bertanggung jawab layaknya seorang Perwira, sebagaimana nama yang Ibu berikan padamu
Jangan menjadi seperti Ayah... 
Iya tidak pantas dipanggil sebagai seorang Perwira, sekalipun oleh anaknya sendiri
Ibu yakin akan datang hari dimana kamu akan bertemu dengan Ibu dan adikmu Alycia, kita akan kembali bersama
Baik-baik disana Wira, 
Ibu menyayangimu....


Yogyakarta, 23 Desember 1999


"Udah ketemu, Al?" Tiba-tiba saja Ibu muncul dari balik pintu
Ibu terdiam melihatku yang sedang terpaku pada sebuah kertas
"Ini apa bu? Coba jelasin sama Al! Kenapa Ibu nggak pernah ngasih tahu Al?" aku terisak
"Ibu..... Ibu cuma nggak tahu gimana cara ngejelasinnya sama kamu, Al..." Ibu terduduk di atas kasur, matanya memandang pada foto itu
"Tapi bu......." tubuhku bergetar, kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku, aku terjatuh duduk di lantai
"Maafin Ibu, Al..........." Ibu mendekap tubuhku dalam peluknya
"Aku udah kenal kakak bu... aku udah ketemu sama kakak..." Ibu melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan tatapan penuh tanya, beberapa detik..... ia masih tetap memandangku, matanya seolah berbicara dan berkata lanjutn Al, ceritakan semuanya sama Ibu, Ibu ingin tahu
"Tenang aja bu, dia tumbuh menjadi seperti yang Ibu harapkan, dia baik, baik sekali... sampai-sampai aku pun hampir jatuh cinta sama dia" aku tersenyum, lalu menghela nafas
"Ibu ingat laki-laki bernama Wira yang ibu tanya waktu itu? ya, dia orangnya bu. Dia anak laki-laki Ibu, dia lah kakakku bu..."
"Bisa kamu mengajak dia kesini, Al? Ibu ingin ketemu sama dia, Ibu mohon..." Ibu menggenggam tanganku sangat erat
"Tenang aja bu, setelah acara hiking-ku selesai, setelah aku kembali lagi ke Jakarta, aku pasti akan bawa kak Wira kesini" aku tersenyum menatap Ibu
"Kalau gitu tidurlah sekarang, kamu bakal butuh banyak tenaga buat besok, nikmatilah perjalanan besok bersama kakakmu" Ibu mencium keningku, mengarahkanku menuju kamar

**

"Apa kamu benar-benar suka senja, Al?" Wira kembali bertanya, memecah keheningan
"Ya, memangnya kenapa?"
"Baiklah, aku akan menjadi senjamu"
"Apa maksud kamu?" aku bertanya dengan heran
"Mau jadi pacarku?"
Hening, aku terdiam, kaget dengan pertanyaan yang diajukan Wira
"nggak, nggak bisa, Wira..." aku membalikkan badan, membelakanginya
"kenapa nggak bisa?" Wira malah tersenyum, aku bingung harus menjelaskannya dari mana
"Tapi, kita ini satu darah"
"Iya, satu darah, karena kita sama-sama orang Indonesia" Wira menganggap seolah ini adalah sebuah lelucon
"Bukan gitu" aku semakin bingung
"Terus apa?" Wira menatapku tajam, meminta penjelasan, aku mengambil nafas panjang
Udara terasa semakin dingin, angin berhembus dengan kencang, aku merapatkan jaket yang ku kenakan.

"Nama lengkap kamu Aditya Perwira Yuwono, kan? Lahir di Yogyakarta tanggal 23 Desember 1992?"
"Dari mana kamu tahu, Al? Nama belakang itu udah lama banget nggak pernah aku pakai" Tatapan Wira berubah, kini ia menatapku dengan tatapan bingung
"Karena aku juga punya nama belakang yang sama kaya kamu"
"Kamu... Alycia Yuwono?" tanyanya
"Ya, aku Alycia Yuwono, anak dari Septian Yuwono, yang nggak lain adalah adik kamu"
suasana semakin hening, orang-orang sudah banyak yang turun untuk menuju perkemahan
"Nggak... nggak mungkin..."
"Kamu masih nggak percaya? coba baca ini...." Aku memberinya surat yang kemarin aku temukan di kamar Ibu
Ia membacanya dengan tangan gemetar. Sedetik... dua detik... tiga detik... air matanya perlahan menetes di balik kacamata yang ia pakai, semakin lama air yang jatuh semakin deras, ia pun tenggelam dalam isak tangisnya di bawah langit malam
"Tapi Alm.Ayah bilang kalau Ibu udah nggak peduli denganku..."
"Nggak begitu, Ayah bohong... tunggu, tadi kamu bilang apa? almarhum? Apa ayah udah meninggal?" Kini giliran aku yang terkejut
"Iya, ayah udah meninggal setengah tahun lalu karena sebuah kecelakaan" Air mata itu masih dengan deras turun dari mata Wira, wajahnya memandangi bulan
Seperti halnya Wira, aku terdiam selama beberapa saat. Tidak, kami tidak sedang berpikir, kami hanya mencoba berdamai dengan kenyataan, mencoba mengikhlaskan semua yang telah terjadi

Hembusan angin kencang seakan menampar kami, mengembalikan kesadaranku. Wira yamg sedari tadi menatap langit akhirnya menoleh, ia mulai berjalan dan menghampiri, lalu tanpa aba-aba ia menarikku ke dalam pelukannya.
"Tenang saja Al, Ayah udah tenang kok di surga" Ia mengelus rambutku dengan lembut, sementara tangisku semakin menjadi-jadi
"Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya? Aku, kamu, dan Ibu" Wira berbicara pelan sekali, nada bicaranya terdengar sangat ikhlas, membuat suasana hatiku lebih baik
"Kamu tahu? aku bahagia akhirnya Tuhan bawa aku ke kamu" aku terdiam sejenak, mencoba mengatur nafas
malam terasa lebih hangat saat aku berada dalam dekapannya, dekapan seorang kakak, kakak laki-laki ku,
"Aku juga bahagia... aku kaya menang jackpot bisa punya kakak kaya gini." aku tertawa, mengingat kejadian saat pertama kali bertemu dengannya
"Maafin kakak ya, kakak macam apa aku ini yang jatuh cinta sama adiknya sendiri" ia melepas pelukannya, menatapku dengan mata indah itu, mata yang dulu hampir membuatku jatuh cinta padanya
Senja memang selalu punya cerita, dan senja kali ini adalah senja paling indah yang pernah aku nikmati. Seperti kata Wira tadi, senja sore ini memang membawaku pada kegelapan, tapi satu hal yang belum Wira tahu, dibalik kegelapan ada sebuah kebahagiaan yang selalu tersembunyi, dan pada malam ini kebahagiaan itu menampakkan wujudnya, kebahagiaan yang lebih indah dari cinta sepasang kekasih; yaitu sebuah keluarga, satu ikatan darah yang tak akan pernah terputus, satu ikatan yang mempunyai cinta yang paling tulus; antara kakak dan adik.

"Jadi, aku udah boleh manggil kamu kakak? Kak Wira?"

No comments:

Post a Comment