Juli 14, 2015

Sebuah lelucon













"Iyaa... goodnight too.... bye"
Aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku dan membiarkannya tergeletak di atas bantal. Untuk malam ini kurasa percakapanku dengan Ihsan sudah cukup.

Angin berhembus cukup kencang, dinginnya masuk ke kamarku melalui celah di antara jendela yang lupa ku tutup rapat.

Aku menghampiri jendela itu dan berdiri di mukanya, dari sini aku dapat melihat langit malam dengan jelas; sang purnama yang menggantung nan anggun dan tebaran bintang yang mendominasi. Terlihat tenang dan damai.

Untuk beberapa menit aku berdiam diri tanpa mengubah posisi, merasakan angin yang masuk dan bersinggungan dengan tubuhku, sebelum akhirnya aku benar-benar menutup jendela dan kembali ke tempat tidur.

Malam sudah terlalu larut untuk tetap membiarkan mata ini terbuka, juga untuk memikirkan perasaan yang entah layak atau tidak untuk dirasa.

Lantunan lagu Rahasia dari Payung Teduh perlahan terdengar mengisi ruangan, yang pada akhirnya mampu membuatku terlelap.

**

Di salah satu meja kantin sekolah, aku dan Ihsan duduk berhadapan. Saling beradu gurau; melempar tawa, berbagi cerita. Tawa Ihsan terdengar cukup kencang, membuat matanya yang sipit mendadak berubah menjadi satu garis saat ia tertawa, ada sensasi tersendiri yang aku rasakan saat melihatnya seperti ini. Juga lesung pipit yang terukir di salah satu pipi; yang selalu menjadi pemanis senyumnya, menjadikannya terlalu sempurna untuk dimiliki.

Ah, aku mencintainya.

Kadang, saat-saat seperti inilah yang membuatku enggan untuk melalui waktu. Aku akan dengan senang hati mengabaikan apapun demi bisa melihatnya tertawa seperti ini.

Pikiranku melayang pada percakapan kami tadi malam. Percakapan biasa, yang selalu ia akhiri dengan kalimat I love you. Sederhana dan (selalu) membuat bahagia. Hanya saja, tadi malam aku merasakan sesuatu yang tak biasanya ku rasakan, ada sesuatu yang ganjil, mungkin perasaan bersalah?

Tangannya yang tidak sengaja menyentuh tanganku membuat lamunanku buyar. Ia masih bertahan dalam tawanya; menertawakan sesuatu yang entah apa, karena aku terlalu larut dalam lamunan.

"Kamu nggak apa-apa? kok dari tadi diem?" bola matanya yang berwarna coklat menatapku.
"Nggak apa-apa kok san, cuma pengin minum" jawabku asal, tak sempat mencari jawaban.
"Yah bilang dong dari tadi, aku pesenin minum ya, kaya biasa kan?" ia tersenyum.
Aku menjawab pertanyannya dengan satu anggukan.

Ihsan menghampiri Ibu kantin dan kembali dengan membawa 2 gelas ice lemon tea.
"Nih minum dulu" ia memberiku gelas yang berada di tangan kanannya.

Aku meminumnya perlahan, dingin ice-nya sangat terasa saat pertama kali masuk ke dalam tenggorokanku. Sama seperti dingin angin semalam yang menyentuh tubuhku. Sejuk.

"Hi kalian! udah lama disini? Tadi kelasku kebagian guru yang agak rese jadi telat deh keluarnya"
Suara itu milik seorang perempuan yang menghampiri meja kami berdua, dia adalah Freya; sahabatku.

"Baru sebentar kok Frey" aku tersenyum kepadanya yang juga tersenyum padaku.

Freya duduk. Aku memasang earphone.

"Kamu mau pesen apa sayang? Biar aku pesenin" Ihsan menawarkan diri, sambil tersenyum -dengan senyum yang sama; yang ia beri padaku tadi.

Sejurus kemudian, rasa dingin yang tadinya terasa sejuk berubah menjadi begitu mematikan untukku. Tenggorokanku seperti tercekik mendengar kata sayang yang Ihsan ucapkan untuk memanggil Freya.
Kita tak semestinya berpijak, diantara 
Ragu yang tak berbatas 
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan, cinta
Ah sial, lagu yang ku dengarkan melalui earphone membuatku semakin bingung harus bersikap seperti apa.

Sekarang di hadapanku duduk dua anak manusia; yang satu sahabatku, yang satunya lagi entah harus ku sebut apa. Dari mata keduanya aku dapat melihat cinta. Dan jelas, mereka berdua bahagia.

Kami bertiga tertawa bersama,
Freya dan Ihsan mentertawakan lelucon yang Ihsan lontarkan.

Tapi aku,

mentertawakan hidupku sendiri.
    
            Apakah rasa ini salah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar