March 28, 2015

Dan hujan belum juga reda.

sumber: tumblr













Hujan belum juga reda, selepas pergimu menghadirkan luka yang mendera
Aku masih di sini... bahkan, selalu di sini, enggan beranjak pergi atau pun ke lain hati.
Mungkin waktu adalah satu-satunya saksi, bahwa hanya padamu lah aku telah jatuh hati, dan padamu pula lah aku terpuruk dalam hinanya sepi. Sepatah maaf darimu takkan membuat hati ini menjadi utuh. Tapi meninggalkanmu, rasanya kaki ini seketika lumpuh...

Masih jelas teringat pertemuan pertama kita, saat kita sudah benar-benar menjadi "kita". Kamu  yang bersandar di anak tangga, kita saling bicara, bertukar cerita walau satu sama lain masih meraba; akan seperti apa ke depannya cerita kita. Lalu kamu pergi membawa sebuah bingkisan yang ku beri, terselip rasa yang meluluhkan hati.

Atau ingatkah kamu pada malam yang membahagiakan, disaat semua orang sudah mendengkur pelan, aku malah menyapamu melalui telepon dalam genggaman. "Selamat ulang tahun...", kataku. Lalu terdengar suara tawamu yang tersipu; malu, kamu tahu? rasanya bintang-bintang berada sejengkal di atas kepalaku

Atau, ingatkah kamu akan suatu sore yang begitu haru; lagi-lagi sebuah percakapan dalam telepon. Kamu meneleponku bukan karena rindu yang menggebu, tapi hari itu, adalah hari lahirku. Kamu memang bukan orang pertama yang memberiku selamat, tapi kamu, akan selalu jadi yang diingat.


Dan derai hujan, mengalirkan derai rindu yang sekian lama tertahan.

Tapi waktu tak berbaik hati, ia enggan membawaku kembali ke masa sebelum janji itu teringkari. Susah payah aku mengumpulkan semua rasa benci, dengan harapan bahwa semua rasa yang kau beri ini akan membuatku enggan untuk kembali. Tapi yang terjadi, lagi-lagi tak sesuai dengan ekspektasi. Kamu masih menjadi orang; yang dengan arogannya meninggali relung hati.


Tapi angin, tak mampu menyampaikan ingin saat sang tuan tak memberi izin.

Bahkan, sebelum kamu membuat semuanya beku dengan sikapmu yang acuh, kamu pernah datang sebagai peneduh saat jiwa ini terasa gaduh. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah hancur dan terkubur.

Dan hujan belum juga reda, saat aku berkutik dengan barisan kata

Udara terasa kian pengap, sedang sunyi dengan diam menyelinap. Pun baris demi baris yang tertulis masih belum cukup menggabarkan cerita manis, atau bahkan perih yang mengiris

slurrppp......

aku teguk sedikit demi sedikit kopi yang tersisa, yang juga turut menelan pahitnya hidup yang kurasa.

Aku pernah bertanya kepada burung-burung yang berteduh kedinginan,
 "kapan hujan ini reda?"
tapi tak ada jawaban, hanya ada suara gemercik air yang jatuh perlahan.

Kalau begitu, kapan hujan ini akan reda, ya? Apakah esok, lusa, atau bahkan takkan pernah reda? Entahlah, kita nikmati saja.

No comments:

Post a Comment