Mei 20, 2015

#AkuLanjutinYa (Tantangan Dari Viny)

Postingan kali ini merupakan cerita lanjutan dari ceritanya Viny! hehehe silahkan baca dulu disini. ^^ 
(catatan: tokoh "dia" disini aku kasih nama Tiny, dan tokoh "aku" namanya Tian)
semoga suka :)

pukul 11.45 malam, di hari yang sama

Malam semakin larut, tapi aku masih saja terjaga, entah apa yang membuat mataku enggan untuk menutup, aku tak bisa tidur.
ah.... senyuman itu ternyata! senyumnya yang ia tujukan padaku di kafe siang tadi, manis sekali, sampai-sampai tidak bisa membuatku tidur. Dan aku berani bertaruh, untuk kesekian kalinya aku benar-benar telah dibuat jatuh hati.
**

Sejak hari itu, hari-hari yang kulalui benar-benar berubah. Aku merasa ada sesuatu yang selalu membuatku semangat menjalani hari. Dan ada satu hal paling penting yang kalian harus tahu! Jika dulu aku hanya bisa memandangnya tersenyum dari jauh, sekarang tidak lagi... sekarang aku lebih sering melihat senyumnya dari arah yang dekat, bahkan sangat dekat, sedekat saat matanya menatapku dan bibirnya mengucap kata "hai..."

Hari kelulusan...

Tiny terlihat sangat senang dengan hasil yang dia dapatkan. Dia berhasil mendapat nilai tertinggi di sekolah. Tak sedikit pujian dan kata selamat yang ia terima, bahkan sampai ada yang memberinya hadiah seperti coklat. Tiny memang gadis cantik dan pintar di sekolah, tak heran banyak sekali yang mengaguminya.

"Ian!!!!" sapa Tiny dari kejauhan sambil melambaikan tangan
Aku yang sedari tadi bersandar di bawah pohon sontak kaget dan hanya membalas sapaan Tiny dengan senyum sambil melambaikan tangan.
Tapi Tiny hanya menyapaku saja, dia tidak berniat menghampiri. Mungkin dia masih ingin berbincang dengan teman-temannya, tak apa, aku tidak ingin mengganggunya. Aku masih bisa memberinya selamat di lain kesempatan. 

Jujur saja, aku masih tidak percaya diri dengan diriku sendiri. Aku merasa aku ini tidak ada apa-apanya dibanding para lelaki yang seringkali ku lihat sedang mencoba untuk mendekatinya. Yang ku tahu, dari semua lelaki itu tak ada yang berhasil. Dan entah apa yang bisa membuatku bisa dekat dengannya, mungkin faktor keberuntungan, pikirku.

**

Lusa nanti sekolahku akan mengadakan acara prom night. Rencananya hari ini aku akan mengajak Tiny untuk datang ke acara prom bersama. Aku sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Aku gugup. Huft semoga berhasil.... batinku

Aku menghampiri Tiny yang sedang membaca novel
"Tiny" panggilku
"Hai ian..." jawab Tiny tersenyum, lalu kembali membaca novel
"enggak hehe, lagi ngapain" tanyaku basa-basi
"Kamu kok aneh sih Ian, jelas-jelas aku lagi baca novel" Tiny menggeleng
"ohehehehe" tawaku dipaksakan
Hening
"Tin?"
"iyaaa?"
belum sempat aku melanjutkan perkataanku, aku melihat sebuah pesan masuk tertera di layar handphone Tiny, pesan dari Andri; anak kelas XII yang kelasnya bersebelahan dengan Tiny.
Di layar tersebut terpampang jelas isi pesan dari Andri, yang tak lain berisi seperti ini:
Ok deh Tin, nanti lusa aku jemput di rumahmu jam 7 ya? c u...
"engg.. kamu ke prom sama Andri?" tanyaku selidik
"iya.... eh, kamu kok tau?" Tiny menyimpan novelnya
"ya tau dong aku gitu he he"
"ih sebel, kamu udah punya pasangan buat datang?" tanya Tiny
"udah donggg" jawabku berbohong
"wah siapa ian siapa?" Kini Tiny menatapku lekat
"mau tau? rahasia weee" aku menjulurkan lidah dan bergegas meninggalkan Tiny
"ih Ian awas yaaa!!!"
Aku masih mencoba tertawa, namun setelah ku rasa aku sudah berjalan jauh dan tak terlihat oleh Tiny, ku hentikan kepura-puraanku.  Aku terlambat. Tapi ini belum berakhir, aku masih punya kesempatan, malam prom nanti takkan aku sia-siakan.

**
Acara Prom night
  
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. di tanganku ada seikat bunga mawar yang akan kuberikan kepada Tiny.
Tiny mana ya? Aku melihat ke sekeliling, mencoba untuk menemukan sosok gadis itu. Oh itu dia. Tiny mengenakan gaun berwarna biru muda, modelnya cocok sekali untuk tubuh Tiny, juga membuatnya terlihat anggun.
Ku langkahkan kaki dengan penuh percaya diri, hari ini atau tidak sama sekali, tekanku dalam hati.

Selangkah... dua langkah... tiga langkah... Aku semakin dekat dengan Tiny, jantungku rasanya seperti dilanda gempang bumi. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai, tiba-tiba saja segerombolan orang-orang mengelilingi Tiny. Lampu diredupkan, suasana hening, alunan musik romantis terdengar pelan. Apa yang terjadi? Aku tak dapat melihat Tiny.
"Would you be mine, Tiny?"
Seorang lelaki mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan hati-hati, aku mencoba mencari celah untuk mengetahui siapa lelaki itu. Aku melihatnya. Itu Andri. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah Tiny, entah kebetulan atau apa ternyata Tiny pun melihatku. Dengan spontan, aku membalikkan badan dan mencoba berlari secepat mungkin, bunga yang tadinya akan ku berikan kepada Tiny pun terlepas dari genggamanku. Aku tak peduli. Aku sudah benar-benar terlambat.

Sejak malam itu, aku tidak berani lagi untuk menghubungi Tiny atau bahkan sekedar menanyakan kabarnya, aku terlalu pengecut untuk berhadapan dengan kenyataan, bahwa Tiny; satu-satunya cinta masa SMA ku, telah jatuh ke dalam peluk orang lain.

**
2 tahun berlalu...

Aku kembali ke pantai ini lagi, memandang sosok yang sama. 

Di sanalah ia berdiri. Di antara celah-celah mentari. Sinar mentari kala itu sedikit menghalangiku melihat wajahnya. Tapi aku yakin ia sedang tersenyum.    
I don't need to be the king of the world....
As long as i'm the hero of this little girl....
Ada bagian dari cerita ini yang belum ku beri tahu pada kalian...
Malam itu, saat acara prom night, ternyata Tiny tidak menerima cinta Andri. Saat aku berlari dan pergi,  Tiny juga mengejarku. Namun aku yang saat itu berlari sangat cepat, tak dapat dikejar olehnya.

Aku baru tahu peristiwa yang sebenarnya ini 7 bulan yang lalu, saat aku tanpa sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe, saat itu Tiny bertanya kepadaku "setelah malam prom, kenapa kamu gak pernah ngehubungin aku lagi? aku ga tau salah aku apa, tapi kamu tiba-tiba menjauh gitu aja dan ilang tanpa kabar, aku bingung tau". 
Dengan susah payah akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Tiny;mengorek kembali luka masa lalu. Dan sebaliknya, Tiny pun meceritkan semuanya yang terjadi, termasuk bagian cerita yang tersembunyi ini.
Dan sejak saat itu, kedekatan ku dengan Tiny kembali terjalin. Cinta masa SMA ku bersemi kembali. 
Heaven isn't too far away....
Closer to it everyday....
Suara deburan ombak yang menghantam karang dan semilir angin yang meniup dedaunan, menghasilkan perpaduan sempurna; membuatku tak pernah ingin beranjak dari tempat ini. Dan lagi, ditambah dengan hadirnya dia di sini membuatku kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan semuanya. Yang pasti aku bahagia. Sangat sangat bahagia.

pukul 1 siang

Matahari kian menyengat tubuh, dia yang sedari tadi memandang ke arah lautan, akhirnya menyerah dan beranjak dari tempatnya. Dari kejauhan, aku melihat sosoknya sedang berlarian kecil  ke arahku.

bruukk
Tanpa ancang-ancang, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sampingku, dan mengambil posisi duduk.
"Udah puas mandangin lautnya?" tanyaku
"Beluuumm" jawabnya sedikit terengah-engah
"Terus kenapa kesini?" tanyaku lagi
"Panas tau!" jawabnya sambil menyeka keringat.
aku hanya tertawa melihat ekspresi wajahnya yang menggemaskan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar