June 11, 2015

Hujanku akan segera reda


 












 kalau begitu, kapan hujan ini akan reda, ya? Apakah esok, lusa, atau bahkan takkan pernah reda?

Di tengah deras hujan yang turun dari langit sang Maha, aku masih terduduk dalam lilitan lara, termenung  menunggu kapan hujan akan reda. Menyelesaikan satu teguk terakhir kopi yang hitam akan luka. Hingga yang tersisa hanya ampas dan sisa-sisa kenangan.


Aku telah memutuskan untuk berdamai dengan semua kenangan. Berdamai, tapi tidak melupakan. Sebab bagiku melupakan sama halnya dengan mengusirnya secara paksa. Dan kamu adalah sisa-sisa keikhlaskan yang belum bisa aku ikhlaskan. Bahkan atas segala yang tlah kau beri, aku 'kan tetap membiarkan kenangan itu hidup, meski dalam ruang yang berbeda; karena nyatanya rasa ini pun tak lagi sama.

Sunyi menyapaku mesra lewat dinginnya yang merasuk dalam dada. Hambar. Kosong. Menusuk.

Sang Maha memang tak terkalahkan. Hujan yang berjam-jam lamanya turun masih belum kehabisan airnya. Dalam riuhnya, aku melihat seseorang tengah berjalan, merelakan dirinya basah dihantam hujan yang tak sendirian.

Samar aku melihatnya mendekat, tak ku taruh peduli padanya, karena pikirku dia hanya ingin berteduh. Tapi ku pikir kembali rasanya orang yang mencari tempat berteduh tidak berjalan selambat itu. Aku mengamatinya lagi dengan seksama. Ku temukan sesuatu di tangannya, ia menggenggam sebuah barang, bukankah itu payung? Jika bisa ku simpulkan, saat ini ada orang yang membiarkan dirinya basah terguyur hujan sedangkan ditangannya tergenggam sebuah payung. Siapa orang bodoh yang melakukan hal itu? 

Aku semakin tak mengerti dengan pola pikir orang-orang saat ini.

Tak kusadari kini orang itu semakin dekat, hingga tiba langkah terakhirnya yang ia hentikan tepat di hadapanku. Laki-laki itu.
Mata kami bertemu. Tatap matanya meneduhkan. Beberapa detik kami saling memandang. Ia tersenyum. Aku malah dibuatnya bingung. 

"Halo" ia menyapaku
Tanpa membalas sapaannya, aku malah menghujaninya dengan pertanyaan
"Mau apa kamu kesini? Kenapa hujan-hujanan? kamu kan bawa payung, kenapa tidak dipakai? Kamu bodoh atau apa sih?"
Yang ditanyai malah tersenyum. Aku semaking bingung.
"Pulang yuk?" ajaknya sambil mengulurkan payung. Aku tak bersuara, apa yang dia lakukan berada di luar nalarku.
"Payung ini dengan spesial ku bawa untuk orang yang sudah terlalu lama menunggu."
Aku tetap tak bersuara, bahkan dia tahu aku sedang menunggu; untuk hujan, untuk akhir dari rasa, dan untuk  segalanya.
"Mau atau tidak?" dia bertanya lagi
"Kenapa kamu melakukan ini untukku?" aku balik bertanya
"Apa aku perlu alasan, untuk sesuatu hal yang kulakukan dengan ikhlas?" bibirnya yang pucat terkena dingin masih ia paksakan tersenyum. Kurasa ia tengah mencoba menahan tubuhnya untuk tidak meng-gigil diantara dingin.
Dan sungguh, hati kecilku bergetar. Dibalik pikiran-pikiranku akan kenangan dan masa lalu, aku lupa bahwa masih ada orang yang dengan ikhlas peduli padaku; dalam waktuku yang terus berjalan.
"Terimakasih" hanya itu yang bisa ku katakan.
"Tidak masalah, ini payungnya, pakai supaya kamu tidak kebasahan" dia masih saja bersikukuh memberikan payung itu untukku
"Tidak, kita pakai berdua, anggap saja ini sebagai balasan dariku" Karena jujur saja, aku tak tega jika harus melihatnya diguyur hujan lagi hanya karena aku
"Terimakasih" ucapnya tersenyum. Walau kurasa seharusnya dia tak perlu mengatakan itu. 

Meski tak pernah terbayang, nyatanya kini dialah orang yang hadir dan membantuku untuk melewati hujan ini; bukannya menunggu. Sang Maha mengirim malaikatnya.

Dalam setiap langkah yang terjejaki, masih tersimpan pernyataan yang mengiringi. Bagai mencari jarum di antara tumpukan jerami, terlihat mustahil tapi aku menemukannya. Aku menemukan jawaban atas pertanyaan yang ku simpan sendiri. Aku menemukan jawaban itu pada matanya, tatap mata yang teduh. Mata itu berbicara, sangat pelan, seperti berbisik....  Aku menyukaimu

Mungkin ini adalah salah satu perwujudan atas hakikat cinta yang dibilang tak pernah seiring dengan logika. Yang dengan sadar atau tidak, membuat orang melakukan suatu hal yang ku tahu cukup bodoh untuk dilakukan oleh orang normal.

Bersamanya, aku tahu bahwa hujanku akan segera reda. 
Dan aku tak perlu lagi menunggu seorang diri, karena kini ada dia yang akan membawaku pada pelangi.