January 16, 2015

Kala hari itu tiba

12 Nov 2014

23.45

Tring
handphoneku berbunyi, tanda ada BBM masuk.

Deva Ardhi
insom ya?:D haha
Mengomentari pesan anda: can't sleep(again) pfftt

"Wah ini kan kak Deva, aih senengnya ketiban rezeki tengah malem gini", gumamku. Dengan cepat aku membalas chat dari kak Deva, tak mau membuatnya lama menunggu.


Thalia Laksani
Hehehe ya begitulah ka, kaka sendiri? insom juga? jam segini masih BBM-an

By the way, kak Deva adalah kakak kelasku waktu di SMA, aku sudah mengenalnya sejak masa orientasi, saat itu kak Deva kelas 3 dan aku baru masuk SMA. Siapa tak kenal dia? Seorang lelaki dengan perawakan tinggi, putih, kurus, gayanya yang nyeleneh, dan.... ganteng hehehe. Love at the first sight, dari mata turun ke hatiBegitulah kira-kira, aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengannya, tapi kisah cintaku tidak berakhir indah, sampai kak Deva lulus SMA, ia tak pernah tahu perasaanku. Ya, aku memang tidak berani untuk mengatakannya, siapalah aku ini, hanya seorang adik kelas yang mengagumi seniornya.
 -----skip-----

3 tahun berlalu,
aku sekarang sudah menjadi maba[mahasiswa baru] jurusan hukum di Universitas Indonesia. Kalau kak Deva? Ia seorang mahasiswa teknik di Institut Teknologi Bandung. Dari mana aku tahu? jangan ditanya, namanya juga secret admirer. Dan malam ini, tiba-tiba saja ia mengirim chat padaku, Mimpi apa aku kemarin...................

**

Sejak malam itu, kedekatanku dengan kak Deva menjadi semakin intens, bukan hanya chat via BBM, kami pun sudah sering bertukar pesan bahkan berhubungan via suara (telepon), kak Deva yang meminta nomorku, alasannya sih supaya ia lebih mudah untuk menghubungiku.

12 Des 2014

dret dret
1 message received

Kak Deva (+628171290xxxx)
Hi ta, sabtu besok kamu ada jadwal kuliah ga? Ketemuan yuk :D kita kan udah sebulan deket, tapi kita belum pernah ketemu, bosen juga kalau cuma ngobrol lewat sms atau telepon doang... Mau ga?

"Haih kak Deva ngajak ketemuan, nggak boleh disia-siain nih", tanpa berpikir panjang, aku membalas pesan kak Deva

Hi kak, u're lucky! kebetulan sabtu besok aku free nih :D wahaha iya juga, ayo mau dimana?
Send.

Tak lama kemudian kak Deva membalas pesanku, aku balik membalas pesannya, begitu seterusnya hingga aku tertidur (lebih tepatnya ketiduran)

**
Hari sabtu telah tiba!
Hari ini aku ada janji untuk bertemu dengan kak Deva di salah satu kafe yang berada di daerah Jakarta Timur. Ini permintaan kak Deva, katanya lebih baik dia saja yang menemuiku ke Jakarta daripada aku yang harus menemuinya ke Bandung, dia tidak tega membiarkanku pergi jauh seorang diri. Padahal kan aku sudah besar, pikirku.

10.50 
Aku duduk di salah satu meja di pojok ruangan kafe yang bergaya vintage, terdengar alunan musik klasik yang mengalun pelan. Di hadapanku sudah ada secangkir Ice Cappucino latte, aku sengaja memesan lebih dulu, untuk jaga-jaga jika kak Deva datang terlambat karena terjebak hiruk-pihuk Ibukota, aku bisa menunggu menunggunya sambil membaca novel dan minum coffe, agar tidak bosan.

Benar saja, waktu sudah menunjukka pukul 11.15 tapi kak Deva belum juga datang, padahal kita sudah janji untuk bertemu di kafe ini pukul 11.

1 message received
Kak Deva(+628171290xxxx)
Ta kamu udah di kafe? maaf ya aku telat, ini kejebak macet, tapi udah nggak jauh kok. Kamu pakai baju apa? biar nanti aku nyarinya gampang.

Reply
Udah kak Dev, iya santai aja hehe, aku duduk di pojok pakai kemeja kotak-kotak warna ijo tua, pakai kacamata, yang cantik, pasti ketemu kok, kalau udah liat jangan digodain ya!:p hahaha nggak deng bercanda.
---Send----

5 menit kemudian....
Aku yang tengah tenggelam dalam cerita novel yang ku baca, tiba-tiba saja dikagetkan oleh seseorang yang datang dan menepuk pundakku dari belakang.
"aww!" kataku lirih
"ah maaf-maaf, kekencengan ya? sakit?" balasnya. Suara itu masih terdengar sama seperti suara yang aku kenal saat SMA dulu, Kak Deva.
Aku tertegun beberapa saat, 2 tahun kita nggak ketemu kak, kamu masih sama, selalu berhasil bikin aku deg-degan tiap kali ketemu kamu. 
"ee.. eeee... engga kok, nggak sakit, i.. itu tadi cuma kaget aja, kirain siapa... hehehe", jawabku, terlihat kikuk dan salah tingkah. Jika saja ada cermin di hadapanku, aku pasti bisa melihat pipiku yang sudah berwarna merah menyala-nyala seperti lampu lalu lintas.
"beneran nggak apa-apa nih? maaf yaa... maaf juga udah telat, jadi nggak enak", ucapnya, ia berbicara sambil menggaruk kepalanya, terlihat konyol, tapi tetap menarik. Masih seperti dulu.
"hahahaha iya santai aja ih nggak usah merasa bersalah gitu" tawaku terdengar agak kencang, siapa juga yang tidak tertawa melihat tingkahnya itu, menggemaskan.
"makasih makasih hehe" ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala
"yang abis menempuh perjalanan Bandung-Jakarta pasti laper kan? Kita langsung makan aja ya, mau mesen apa? Disini ada makanan favorit aku loh, mau nyoba?"
"Kamu kok tau aja, wah apa tuh? Yaudah aku samain aja sama kamu ta". Balasnya sambil menyeringai
"oke deh" jawabku singkat, sambil mencari-cari waitress

Pesanan kami pun datang, kami menyantap makanan sambil mengobrol, bertukar cerita dan informasi tentang diri masing-masing. Dari balik jendela kafe, terlihat air hujan turun dengan derasnya membasahi jalanan. Bulan Desember, wajar saja jika hujan seringkali turun, bahkan saat di siang hari seperti ini.
"ta?" panggil kak Deva
"iya ka?" jawabku yang tetap memandang ke luar jendela
"liat sini dong" pintanya
Aku menoleh ke arah kak Deva, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan beberapa bunga mawar merah yang ada di hadapanku. Deg!
"a...apa itu maksudnya kak?", jujur saja saat ini jantungku berdebar kencang sekali, lebih kencang dari suara bedug yang ditabuh pada saat malam takbiran.
"Hmm jadi gini......" kak Deva berhenti pada kalimatnya, beberapa detik, "kakak suka sama kamu dari SMA, tapi dulu kakak lagi fokus-fokusnya ngejar nilai buat masuk universitas, dan entah cuma kebetulan atau memang takdir, sekarang kita ketemu lagi, kakak ngga mau ngebuang-buang kesempatan buat kedua kalinya."
"jadi?" aku berpura-pura tidak mengerti, padahal sebenarnya aku tau akan kemana arah pembicaraan ini
"Kamu mau jadi pacar kakak?"
Dag dig dug duaaarr! ah benar saja, entah apa yang ku rasakan saat ini, bahagia tapi deg-degan setengah mati, ternyata kak Deva selama ini punya perasaan yang sama denganku, itu berarti selama ini cintaku berbalas, hanya saja pending untuk beberapa tahun.
Tanpa berpikir panjang aku menjawab pertanyaan itu
"mau ka.... hehehe" jawabku malu-malu dan sedikit jaim
Kak Deva tidak bersuara, ia hanya tersenyum dan memandangku dengan tatapan penuh arti untuk beberapa detik, detik berikutnya ia menarik dan menenggelamkanku ke dalam dekapannya yang hangat.

14.00
Hujan belum juga reda, tapi kami memutuskan untuk pergi dari kafe itu. Kak Deva membukakan pintu mobil dedan berwarna hitamnya untukku, kami pun lanjut mengunjungi salah satu mall yang letaknya tidak jauh dari situ.
Kak Deva mengajakku menonton. Tadinya ia mengajakku untuk menonton film horror, yang benar saja(?) orang penakut seperti aku ini tidak mengkin mau, sekalipun dibujuk seribu kali. Akhirnya aku mengusulkan untuk menonton film romance, dan kak Deva meyetujuinya. Pada saat di dalam bioskop, bukannya menonton film, kak Deva malah asik menertawakanku yang wajahnya sudah berlinangan air mata.
"Kamu lucu deh kalo nangis gitu hahahhaha" ucapnya menggoda
Setelah selesai menonton, kami lanjut bermain timezone, setelah itu makan(lagi) karena katanya kak Deva lapar, jadi apa boleh buat aku temani saja. Pokoknya hari itu aku sangat senang!

20.00
Kak Deva mengantarku pulang ke kosan. Sampai di depan kosan kak Deva membukakan pintu mobilnya untukku. Hal kecil yang membuatku tersenyum.
"Harus pulang ya?hmm coba aja Jakarta-Bandung nggak jauh, aku samperin kamu tiap hari deh"  ucapnya, terlihat seperti anak kecil, padahal yang ada dihadapanku ini seorang lelaki berusia 20 tahun ----lebih tua 2 tahun dariku----
"nanti weekend bisa ketemu lagi kan?" ucapku sambil mengangak-ngangkat alis, mencoba menghibur
"iya, tapi kan...... ah yaudah deh aku pulang ya"
"okayyy bos! hati-hati"
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, lagi-lagi dengan secepat kilat ia menarikku ke dalam dekapannya, dan membisikka sesuatu di telingaku "I love you ta, makasih udah jadi bahagiaku hari ini"
"Love you too, terimakasih kembali, Deva" balasku, diikuti dengan senyum yang spontan mengembang di wajahku.
Kak Deva pun masuk ke dalam mobilnya, meyalakan mesin, dan perlahan mobil itu bergerak maju, dan menghilang di ujung gang bersamaan dengan gelapnya malam

**

Keesokan harinya aku terbangun dengan harapan ada sebuah pesan masuk dari kak Deva. Aku mengambil handphone, tetapi percuma, tetap tidak ada.
Aku mencoba menghubunginya, tetap tidak bisa. Aku mengirimkan pesan, whats app, bbm, tetapi tidak ada yang terkirim. 
Aku dibuat bingung setengah mati olehnya. Sehari, dua hari, tiga hari, masih belum ada kabar. Aku sempat berpikir bahwa kak Deva sedang mempermainkanku, kalaupun iya, dia sudah sangat berhasil membuatku jatuh. Tapi aku tidak mau berpikiran negatif. Akhirnya aku mendapatkan nomor telpon teman kak Deva, sesegera mungkin aku menanyai kabar dan keberadaan kak Deva.

dret dret
pesanku dibalas dengan sangat cepat

Muhammad Raka 
Kamu pacarnya Deva ya? maaf sebelumnya belum ada yang memberi tahu kamu, Deva masuk rumah sakit, sampai sekarang keadaannya masih koma

Perlahan air mataku menetes, pelan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku terpaku, handphoneku jatuh, untuk sepersekian detik badanku terasa sangat lemas, aku terduduk dan menangis sejadi-jadinya.
Hari itu juga aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat kak Deva dirawat.

**

Sesampainya di sana, aku tidak bisa menahan air mataku ketika melihat sesosok lelaki yang aku cintai terbaring di sebuah ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang pada tubuhnya. 
Ibunya kak Deva yang saat itu sedang berada disana mencoba menenangkanku. Setelah aku tenang, ibunya mulai bercerita tentang berbagai hal.

"Kamu nak Thalia ya? Deva sering menceritakanmu pada Ibu, katanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat jatuh cinta dan tetap bertahan selama bertahun-tahun meski tidak pernah bertemu. Pantas saja Deva sangat mencintaimu, kamu memang cantik". Ibunya tersenyum
"Hari itu, sebelum berangkat ke Jakarta, Deva terlihat sangat senang sekali, ia meminta do'a pada ibu agar cintanya diterima, dan ia bilang begini pada ibu 'apa jadinya nanti kalau aku ditolak bu, bisa remuk hatiku ini' gitu kata Deva hahahahaha memang dia ini laki-laki tapi masih saja cemen kalau tentang cinta" lanjut Ibu, tertawa, tapi terdengar lirih
"Tapi malam tidak sama dengan pagi, pagi hari Deva masih bisa tertawa, mungkin juga sampai saat ia belum pulang, saat ia masih bersamamu di Jakarta. Malamnya Ibu malah mendapat kabar buruk, ada seseorang yang menelpon Ibu dan berkata bahwa Deva mengalami kecelakaan" Sekarang Ibu tidak bisa lagi membendung kesedihannya, tangisnya pun pecah.
Kali ini gantian aku yang menenangkan Ibu, aku memeluknya, kami saling mendekap. 

Tiba-tiba saja, alat yang menunjukkan aktivitas jantung kak Deva berbunyi panjang memekikan telinga, pada layar hanya terlihat satu garis lurus horizontal. Aku dan Ibu saling menatap, kami panik, kami berteriak keluar memanggil dokter. Dokter dan suster datang, mencoba memancing jantung kak Deva dengan alat pacu jantung. Sekali, tidak berhasil. Dua kali, tiga kali, masih tidak berhasil. Dokter pun menyerah, ia keluar dari ruangan, memperlihatkan muka berduka seraya berkata, " Maaf bu, kami sudah berusaha sekeras mungkin, tapi takdir sudah memanggilnya"

Aku menangis dan langsung masuk ke dalam, memeluk tubuh kak Deva dan menyandarkan kepalaku di  dadanya. Tangannya yang terkulai di ranjang kini tidak bisa mendekapku lagi seperti saat di kafe siang itu.

**

Hari itu, hari pertama dan terakhir kita bertemu untuk cerita kita yang baru. Pada hari itu juga takdir telah menetapkan dua kejadian berlangsung sekaligus; yang satunya membawa kebahagiaan, dan yang satunya lagi membawa duka. 

Aku bahagia bisa membahagiakanmu sebelum musibah itu terjadi, dan ada di sisimu sampai nafas terakhirmu berhembus, meski kau mungkin tidak mengetahuinya. 
2 tahun berpisah lalu kita dipertemukan lagi, dan baru sebulan bersama ternyata takdir menginginkan kita berpisah untuk kedua kalinya. Bedanya ini bukan tentang jarak, tetapi tentang kematian; yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun. 
Dan aku berharap akan ada pertemuan ketiga kita di surga nanti. Aku menyayangimu, dari saat pertama hingga detik ini.